Friday, March 18, 2016

Marshall Glickman

BY biophia@gmail.com IN No comments


Miliyarder dan mantan Presiden NBA;s Portland Trail Blazer

“Carilah alternatif investasi yang tidak menguras dompet”

Investasi memang penuh resiko. Bahkan karena sejumlah foktor yang tak terduga dia kadang kala bekerja di luar skenario kita. Itulah mengapa orang-orang kaya selalu berhitung sangat cermat sebelum memutuskan kemana mereka akan menginvestasikan uangnya. Mereka tidak semata-mata tergiur keuntungan yang bisa diperoleh. Tapi juga menghitung sberapa probabilitas keuntungannya dalam kondisi terburuk sekalipun. belum lagi di zaman segila ini. Kita sering mendengar istilah “ Investasi Bodong ”, alias investasi tipu-tipu. Jadi, ketika berurusan dengan yang namanya investasi, mutlak kita harus sangat berhati-hati.

Nah, sikap kehati-hatian itulah yang membuat banyak orang tidak mudah atau bahkan tidak sama sekali memilih berinvestasi. Walau demikian, kebanyakan orang tersebut tetap tidak bisa menolak bahwa berinvestasi adalah cara paling top untuk melipatkan aset dan kekayaannya. karena itu, mereka tetap berusaha mencari pilihan lain dalam berinvestasi. Bila yang sifatnya tidak membutuhkan uang, tapi tetap bisa memungkinkan kita meraup uang lebih banyak lagi.

Salah satu pilihan investasi yang kerap dilirik banyak orang adalah jaringan atau relasi. Apa yang bisa kita investasikan pada jaringan? Jelas, kualitas, nilai lebih, bahkan nama baik. Melalui ketiga hal itu kita mendapat keuntungan yang tak kalah “besar” yang disebut sebagai kepercayaan. Ya, kalau seluruh jaringan dan relasi sangat percaya pada kita, maka itulah saatnya bagi kita untuk bisa meraup uang lebih banyak, kepercayaan membuat mereka berani bermitra dengan kita. Dan itu kemudian membuat kita memiliki jalan lebih lapang untuk melebarkan sayap bisnis.

Orang-orang kaya itu kreatif. Saat kondisi belum memungkinkan untuk berinvestasi, mereka tidak berhenti begitu saja. Mereka akan terus mencari pilihan lain yang sebetulnya tak kalah menjanjikan.

Warren Buffet

BY biophia@gmail.com IN No comments


Investor Ternama Amerika


“Bila seseorang menjengkelkan saat miskin, maka ia pun akan tetap menjengkelkan saat menjadi 

miliyarder”

Titik tekannya adalah watak. Bila ingin kaya kita harus menjauhkan watak rakus. Perhatikanlah gelagat orang rakus saat memegang sejumlah uang. Ketidaksabaran selalu melingkupi mereka. Ujung-ujungnya mereka akan sulit mengendalikan uang begitu punya uang, yang lebih sering terpikirkan adalah bagaimana cara menikmatinya. Seolah-oleh mereka memandang uang sebagai tujuan akhir. Artinya ketika uang diperoleh maka tugas sudah selesai. Selanjutnya tinggal menikmati apa yang diperoleh.

Walaupun saat ini kita belum kaya, tapi tidaklah berlebihan bila kita mulai belajar berwatak kaya. Belajar berwatak kaya berbeda dengan ingin terlihat kaya. Berwatak kaya berarti memiliki prinsip-prinsip untuk menjadi kaya. Yaitu, bijak memahami karakter dan fungsi uang, cermat mengelolanya dan lebih mendengarkan prinsip produktif ketimbang konsumtif. Dengan begitu, semoga sejak awal kita tidak menjadi orang-orang yang menjengkelkan ketika berhadapan denganuang.


Melalui kata-katanya iru Warren Buffet sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat tersirat. Dan itu, tidak bisa ditemukan begitu saja dalam kata-katanya tersebut. Buffet berpesan bahwa seseorang yang menjengkelkan ketika miskin sebenarnya akan sangat sulit mencapai kekayaan. Kalau pun tercapai, itu hanyalah semu. Bukan kekayaan sejati. Konsekuensinya, kekayaan semu hanya bisa bertahan dalam waktu sebentar.

Thursday, March 17, 2016

Michael LeBouf

BY biophia@gmail.com IN No comments

Pakar bisnis dari University of New Orleands

“Investasikan waktu anda secara aktif, dan uang anda secara pasif”

Tiap Hari seorang pedagang toko kelontong harus menunggu barang dagangannya. Dia mesti stand by setiap waktu untuk melayani orang-orang yang membeli dagangannya. Sebagai pemilik modal dia harus terus mendampingi aktivitas usahanya. Itu berarti, si pedagang tersebut belum bisa dikatakan menginvestasikan uangnya secara fisik. Dan kalau itu tidak dilakukan, maka usahanya tidak akan berjalan. Otomatis  keuntungan tidak bisa di raup.

Definisi kaya memang sangat relatif. Termasuk ukuran untuk menyebut seseorang menjadi kaya. Tapi kalau kita mengacu pada prinsip orang-orang kaya besar, maka arti kaya akan lebih luas. menurut mereka kaya adalah seberapa bisa kita bertahan dengan gaya hidup yang dianut, tanpa harus bekerja secara fisik. Lalu siapa yang bekerja? Jawabanya uang. uanglah yang bekerja tanpa lelah untuk menghasilkan banyak aset dan investasi bagi kita. Dalam pengertian lain kaya berarti memiliki Passive Income yang bisa membiayai hidup kita terus menerus. Yang kita lakukan hanya tinggal berpikir cerdas dan cermat agar uang bisa bekerja untuk kita tanpa mengenal waktu.


Nah, kalau ingin memiliki passive Income berarti sejak sekarang kita harus berpikir bagaimana caranya agar uang bisa bekerja secara pasif. tanpa kita harus mendampinginya bekerja tiap hari. Itulah yang disebut menginvestasikan uang. Ketika uang bisa bekerja demikian, kita jadi punya banyak waktu untuk berpikir dan mencari lumbung-lumbung investasi lain yang tak kalah menghasilkan.

Aristoteles Onassis

BY biophia@gmail.com IN No comments


Pebisnis dunia dan pendiri olimpic airlines

“bila tidak punya uang, pinjamlah. Tapi pinjamlah sesuai yang anda butuhkan, dan usahakan membayarnya dengan cepat”

Kenapa orang-orang kaya relatif berhasil melunasi utang-utang meraka, tanpa harus pusing tuju keliling memangkas penghasilannya? Jelas, karena mereka tahu kenapa jalan berhutang harus ditempuh. Utang tidak mereka gunakan untuk memenuhi keinginan konsumtifnya. Sederhananya, mereka berutang bukan karena ingin membeli “ini” atau menikmati “itu”. Utang mereka gunakan untuk melakukan sejumlah hal yang akan mendatangkan uang lebih banyak. itulah yang disebut utang produktif. Jadi, kalau hanya sekedar untuk membayar cicilannya, orang-orang kaya itu jelas tidak akan bingung. Karena, hanya sedikit keuntungan usaha yang dialokasikan untuk membereskan itu setiap bulannya. Dan karena itulah mereka bisa membayar utang-utangnya lebih cepat.

Melalui prinsip Onassis tersebut , kita bisa belajar memahami utang dengan lebih bijaksana. Buat apa berutang kalau hanya digunakan untuk membeli kesenangan-kesenangan yang sebetulnya belum kita butuhkan, atau setidak-tidaknya belum cocok kita nikmati. Pola berpikir demikian hanya akan membuat kita pusing setiap bulan. karena harus menyisihkan sejumlah penghasilan yang diperoleh untuk menyicil uang tadi. Pesannya Cuma satu, berutanglah hanya untuk hal-hal yang produktif.

Semakin lama kita berupaya melunasi utang, maka selama itu pula hidup kita merana. Berpikirlah dan bertindaklah seperti orang-orang kaya. Utang tidak membuat mereka merana. justru malah utang yang memperbesar peluang mereka untuk mengeruk lebih banyak lai keuntungan dalam berbisnis. 

Wednesday, March 16, 2016

David Bach

BY biophia@gmail.com IN No comments


Penasihat dan pakar keuangan
“Setelah beberapa lama, uang berlipat ganda. Setelah sangat lama, uang berlipat ganda secara dramatis”

David Bach ingin bicara lebih jauh ketika uang dipandang sebagai alat. di awal berbisnis, kita mungkin memiliki alat yang ju,lahnya terbatas. Tapi, bila itu dikelola secara efektif, maka semakin lama alat itu akan menghasilkan alat-alat lain yang jumlah dan fungsinya lebih besar. Begitu seterusnya, hingga semua alat yang kita miliki bekerja dan terus bekerja untuk menghasilkan alat lagi.

andaikan saja saat ini kita punya modal 5 perak, olahlah secermat mungkin hingga menghasolkan 10 perak. Jika dijumlahkan modal itu kemudian berlipat menjadi 15 perak. Nah, ambillah sekian perak dari total keseluruhannya, untuk digunakan membiayai hidup kita sehari-hari. Selisihnya gunakan lagi sebagai modal untuk mendatangkan berpuluh-pupluh perak keuntungan. Begitu seterusnya, hingga kita bisa memiliki kekayaan dan nilai aset yang sangat besar.

Poinnya, kalau ingin kaya kita harus sabar mengelola seberapapun modal yang dimiliki. Bila modal itu mendatangkan keuntungan, gunakan lagi sebagai modal untuk mendatangkan keuntungan yang lebih besar. Dan jangan lupa, kesabaran harus berbanding lurus dengan kecerdasan mengelola modal yang ada.

Robert T Kyosaki

BY biophia@gmail.com IN No comments

Milyarder Amerika berdarah Jepang

“Kalau anda harus bekerja, maka bekerjalah untuk belajar. Jangan bekerja untuk uang”

Tidak sedikit orang memiliki keinginan kuat untuk membuka usaha. Tapi tidak sedikit juga dari mereka yang sementara waktu harus memendam keinginannya itu. Alasannya cukup beragam, mulai dari yang tidak punya modal, masih kekurangna modal, belum menguasai betul bidang bisnis yang ingin digeluti, hingga keberanian masih setengah-setengah. Ujung-ujungnya mereka memutuskan untuk bekerja kepada orang lain alias menjadi pegawai.

Bila saat ini kita masih harus berada di kuadran karyawan (Employe), sebetulnya bukanlah masalah banyak pebisnis yang menyarankan agar sebelum menjadi seorang pebisnis kita lebih dulu menjadi pegawai. Dan sangat dianjurkan menjadi pegawai di perusahaan yang bergerak pada bidang yang kelak akan kita laksanakan.

Selama menjadi pegawai, bekerja dan berkaryalah seoptimal mungkin. Jangan semata-mata terpaku pada jumlah gaji yang akan didapat. percayalah, uang (gaji) hanya sejkedar konsekuensi atas prestasi kerja yang kita raih. Kalau kita bisa memberikan hasil terbaik, maka si bos pun tidak akan menutup mata untuk itu. Bekerjalah untuk mencari ilmu, bukan mencari uang. Kalau kita sudah dapat cukup ilmu, maka modal terbesar untuk berbisnis sudah digenggam. Selanjutnya kita tinggal memikirkan modal uang.

Modal ilmu jauh lebih penting ketimbang modal uang. Dengan ilmu atau kecerdasan, kita tetap bisa memulai bisnis dan meraih kesuksesan, kita tetap bisa memulai bisnis dan meraih kesuksesan. Sekalipun modal awalnya relatif kecil. Sebaiknya, sebuah bisnis tidak akan bertahan lama bila semata-mata hanya ditopang modal uang yang besar. sebab kita tidak memiliki pengetahuan atau kecerdasan yang memumpuni untuk mengelola modal tersebut. Jadi belajarlah lebih banyak. Jangan terlalu percaya akan “Doktrin” jumlah modal yang selalu menghantui pebisnis pemula. berpegangteguhlah pada kemampuan anda semata.

Tuesday, March 8, 2016

Mark McCormack

BY biophia@gmail.com IN No comments


Pendiri International Management Group

“Bila suatu bisnis makin tergantung pada uang, maka semakin kecil kemungkinannya untuk sukses”

Bisnis tidak semata-mata soal modal. Besar atau kecil, modal sebetulnya bukan persoalan utama yang bisa menghalangi alat berbisnis. Titik tumpunya ada pada ide dan kreativitas. Melalui dua hal itu, masalah modal relatif bisa teratasi. Namun, bukan berarti ide atau kreativitas bisa mendatangkan fresh money begitu saja. Melainkan, kita lebih terbantu untuk memulai usaha secara lebih efektif. Karena kreatifitas membuat kita lebih cermat dan efektif menggunakan modal.

Dalam bisnis, bukan modal yang kita jual. Melainkan ide yang tertuang nyata dalam bentuk dan jenis usaha yang digeluti. Ide membuat modal kita memiliki daya bangkit, sekalipun jumlahnya relatif kecil. Ide juga membuat kita berani bersaing dengan mereka yang punya modal besar dan faktor pendukung lainnya.

Pilihlah bidang bisnis yang lebih mengedepankan ide ketimbang modal. Setidaknya, pilihan tersebut sangat cocok bagi kita yang baru memulai bisnis dengan modal seadanya. Biarkan ide yang memelihara pertumbuhan bisnis anda. Sebab ide sejatinya tidak pernah habis, selama kita berupaya keras mencarinya.

Saturday, March 5, 2016

Gallery Hotel Fokus Ke Food And Beverage

BY biophia@gmail.com IN No comments

Jajaran manajemen Gallery Prawirotaman Hotel melakukan kunjungan ke kantor Harian Tribun Jogja, Jumat (4/3/2016). Dalam kunjungan ini selain silaturahmi turut dibahas berbagai penjajakan kerjasama. 

Selama dua tahun keberadaannya, Gallery Prawirotaman Hotel berhasil meraih pencapaian yang memuaskan.
Menghadapi 2016, hotel bintang empat ini fokus ke layanan Food and Beverage. Hal ini dilakukan melihat antusiasme tamu yang didominasi wisatawan mancanegara.

Hal tersebut diungkapkan General Manager Gallery Prawirotaman Hotel, Ervin Erryawan ketika berkunjung ke kantor Harian Tribun Jogja, Jumat (4/3/2016). Rombongan Gallery Prawirotaman Hotel diterima oleh Manajer Iklan, Shinta Indahayati; Manajer Sirkulasi, Edy Utama; dan jajaran manajemen.

Dalam kesempatan tersebut Ervin mengatakan, mengenai program hotel ke depannya, pihak hotel akan fokus pada pengembangan Food and Beverage pada 2016 ini. Hal ini tak lepas dari kondisi dimana saat ini tamu dari mancanegara cukup dominan.

"Tamu dari sekitar 51 negara telah mengunjungi kami. Untuk okupansi tentunya tidak terlalu menjadi masalah, apalagi kini wisatawan semakin pandai dan tidak berpusat pada ring 1 saja. Untuk meningkatkan pelayanan pada tamu dari mancanegara tersebut, kami fokus menyediakan menu dari kuliner nusantara," terang dia.

Tamu dari mancanegara, lanjut Ervin, semakin berminat untuk menjelajah khazanah kuliner nusantara yang memiliki banyak ragam. Kesempatan inipun dimanfaatkan pihaknya untuk memberikan berbagai hidangan nusantara.(*)



Penulis: toa
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja

Friday, March 4, 2016

John Paul Getty

BY biophia@gmail.com IN No comments


Pengagas Getty Oil

"Pebisnis yang selalu mengeluh kekurangan modal, ibarat seorang tukang yang selalu mengeluh soal perkakasnya"

Banyak orang takut memulai usaha karena merasa modalnya kurang cukup. Perasaan takut itu kemudian membuat mereka mundur perlahan dan ujung-ujungnya tidak memulai apapun. Termasuk tidak berpikir kreatif untuk mengatasi kendala modal yang dialami. padahal para pebisnis besar selalu menasihatkan, agar kita berani memulai bisnis dari modal yang ada. Seberapapun nominalnya selama masih realistis.

Jalan kelyarnya hanya ada dua. Pertama, memulai usaha seadanya sesuai jangkauan modal yang dimiliki. UNtuk melakukannya kita butuh kreatifitas tinggi, ketekunan, dan keyakinan bahwa segala kesuksesan sejatinya dimulai dari bawah.

Kedua, meminjam sesuai kebutuhan modal yang diperlukan. Carilah pinjaman dengan bunga yag rendah dan jangan langsung tergiur dengan segala kemudahan syarat pinjaman yang bunganya justru mencekik. Dalam mengelola pinjaman kita harus bisa mengupayakan pada titik penjualan berapa pinjaman itu bisa dicicil secara aman dan relevan. Lipatkan terus keuntungan anda dengan memanfaatkan keuntungan sebaik-baiknya. Dengan begitu, semoga suatu saat kewajiban membayar cicilan hanya masuk sebagai prioritas kecil.

Jangan cepat mengeluh. Karena keluhan hanya akan melahirkan banyak alasan untuk kita tidak melakukan apapun. Dan yang penting, para pebisnis besar tidak memulai usaha mereka semata-mata dengan modal, atasilah dengan segala upaya krearif yang mudah mudahan bisa membuat langkah awal kita lebih ringan.

Mark Victor Hansen

BY biophia@gmail.com IN No comments


Kreator Seri Chicken Soup

"Uang itu tidak baik atau buruk, uang itu netral"

Uang tidak lebih dari sekerdar alat. Persoalannya, bagaimana dan untuk apa alat itu digunakan, semua tergantung pada yang memiliki dan memegangnya. Uang bisa kita "Perintah" UNtuk mendatangkan banyka kebaikan. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebaliknya, kita bisa "menyuruh" uang sesuka hati kita untuk melakukan banyak hal buruk, termasuk sejumlah hal yang tidak menghasilkan apa-apa.

Jadilah tuan yang baik dan benar bagi uang-uang anda. Caranya kita harus cermat mengelola peruntukannya. Cermat berarti tahu untuk apa uang itu digunakan agar bisa lebih menghasilkan. Sebelum menjadi tuan bagi uuang, kita harus menjadi tuan bagi kita sendiri. Lihatlah tidak sedikit orang yang gagal mengendalikan nafsu atau keinginannya ketika sudah memegang uang. Akibatnya mereka justru menjadi hamba bagi uangnya. Uang menguasai mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak produktif.

Yakinlah, kekayaan bisa diraih bila kita mampu mengendalikan uang mengendalikan uang yang dimiliki. Ibarat beternak ayam, kita harus bisa membuat uang kita bertelur secara produktif. Jangan langsung tergoda untuk menikmati telus yang baru saja dihasilkan. Bersabarlah, kelola agar telur itu bisa menetas menjadi ayam yang nantinya akan bertelur dan menghasilkan ayam serta telur lagi. Dan begitu seterusnya h

Sunday, February 28, 2016

Batam Menyongsong Masa Depan

BY biophia@gmail.com IN No comments


Batam Sebuah Transformasi
Tak terbayangkan pada awalnya bahwa sebagai sebuah pulau kecil seluas kurang lebih 400 kilometer persegi, yanga memiliki sedikit penduduk sekitar 6000 orang di tahun 1970 danmiskin sumber daya alam, Batam dapat berkembang seperti sekarang dengan kontribusi ekspor mencapai 10% dari ekspor nasional. Indikator keberhasilan Batam lainnya ialah bahwa ia mampu menyediakan lapangan kerja kepada 175.000 orang, menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) sekitar Rp 55 Milyar (Hingga akhir Tahun 200) dan mengirimkan hasil pajak ke pusat sebesar Rp. 871 Milyar dalam tax ratio 20% di seluruh Pulau atam.

Banyak pihak mungkin melihat bahwa posisi stra tegis Batam merupakan faktor utama keberhasilannya. Tapi, posisi strategis sebagai pulau yang dekat dengan Singapura sesungguhnya bukanlah hanya monopoli Batam. Banyak pulau lain di sekeliling batam yang mempunyai posisi strategis serupa namun tidak menghasikan kinerja seperti yang dicapai oleh Batam. Posisi strategis saja ternyata tidak cukup, sebab masih diperlukan upaya pembangunan infrastruktur yang berkeseimbangan, disertai upaya mensignifikan sampai awal tahun 1990-an, kemudian terus-menerus menurun hingga tahu 200. Ketika anggaran pemerintah yang diterima otorita Batam hanyalah sebesar 5 Milyar. namun, total investasi pemerintah yang telah ditanamkan mencapai US$ 1,6 Milyar, telah berhasil menarik investasi sektor swasta sekitar US$ 5,7 Milyar, atau lebih dari tiga kalilipat dari investasi pemerintah. Di samping itu, efek berganda dari investasi itu juga tidak kecil, yakni seperti tumbuhnya usaha kecil menengah (UKM) yang sekarang berjumlah lebih dari 8000 buah, serta penyerapan tenga kerja yang mencapai sekitar 160.000 orang.

dari penjabaran data tersebut, dapatlah dimengerti bahwa, selain lokasi yang strategis, faktor kunci keberhasilan suatu daerah industri adalah juga tersedianya infrastruktur, terjaminnya sistem, prosedur, dan pengelolaan yang efisien, serta adanya insentif perpajakan.

Friday, February 26, 2016

David bach

BY biophia@gmail.com IN No comments


Pakar  Keuangan 

“Bukan apa yang anda tahu tentang uang, melainkan apa yang tidak anda tahu tentang uanglah yang akan menghancurkan anda”

Orang-orang kaya sangat mengenal sifat dan karakter uang. Uang bila digunakan untuk memenuhi syarat konsumtif secara terus-menerus tentu akan habis. Sekalipun jumlahnya sangat besar. Sebaliknya, bila uang dikelola secara baik dan punya target pencapaian yang jelas, maka akan beranak pinak dengan sendirinya. Berapapun jumlah awalnya cukup sedikit.

Orang-orang kaya bukan menjadikan uang sebagai tujuan akhir, melainkan alat andal yang bisa dipakai untuk menghasilkan lebih banyak lagi uang. Itulah mengapa mereka selalu berfikir agar uang yang bekerja untuk mereka,  bukan mereka yang bekerja untuk uang. Saat kita berfikir uang sebagai titik akhir dari kerja keras, maka kita akan cenderung “Menghabiskan” uang tersebut. Misalnya untuk membeli suatu barang yang sebetulnya belum tentu kita butuhkan, atau bahkan demi membeli berbagai kesenangan kesenangan dan kenikmatan duniawi. Sebaliknya, jika kita menganggap uang sebagai alat bantu yang dapat mempermudah upaya mencapai berbagai cita-cita, maka saat itu juga kita berfikir keras bagaimana agar uang tersebut mencetak lebih banyak lagi uang. Misalnya, dengan membuka usaha atau menginvestasikannya di sejumlah bdang bisnis strategis.

Intinya, kalau kita punya uang maka kita harus bisa mengendalikannya. Terutama bagaimana uang itu digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif dan bermakna. Kalau kita yang justru dikuasai uang, maka lambat laun uang akan menguap dengan sendirinya. Sementara kita tidak meraih kesuksesan yang sesungguhnya.
 


Andrew Cornegie

BY biophia@gmail.com IN No comments


Pendiri Cornegie Steel Company

“Untuk mendapatkan satu ons emas, anda harus memindahkan berton-ton tanah”

Papatah lama mengatakan “Kota Roma Tidak Dibangun Dalam Semalam”. Begitupun kekayaan dan kesuksesan dalam hidup. Kita bisa meraihnya hanya dengan kerja keras dari waktu ke waktu. Kekayaan adalah hasil dari kerja maraton yang tidak mengenal lelah. Bahkan, setelah kekayaan terwujud pun kita tetap perlu berfikir bagaimana mempertahankan dan terus mengembangkannya.

Kerja keras membutuhkan dua hal mendasar yang senantiasa harus kita ingat. Pertama, kesabaran. Orang-orang yang tidak sabar mewujudkan kekayaannnya cenderung berfikir pendek. Orientasi mereka hanya terpaku pada keuntungan dan bagaimana menikmatinya. Upaya yang mereka tempuh pun kebanyakan adalah cara-cara instan. Mereka kurang tekun, bahkan tidak kreatif. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk memutar dan terus mengembangkan uangnya.

Kedua, perencanaan matang dan terukur. Stiap kerja keras butuh orientasi target. Sekeras apapun kita bekerja, hasil efektif tidak akan diperoleh bila kita tidak memiliki target sebagai muaranya. Karena itulah, penting membuat perencanaan matang dan bisa diukur oleh kemampuan yang dimiliki.

Sudah ketentuannya bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa didapatkan begitu saja. Tingkat demi tingkat kekayaan hanya bisa diperoleh bila kita tidak pernah berhenti bekerja dan berpikir.
 


Wednesday, February 24, 2016

Henry Ford

BY biophia@gmail.com IN No comments


Pendiri Ford Motor Company

:Keamanan finansial bersumber dari pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan”

Pernahkah anda melihat seorang anak yang mewarisi kekayaan begitu banyak dari kedua orang tuanya? Lalu, bisakah mereka mempertahankannya atau bahkan mengembangkannya? Jika tidak, berarti apa yang dikatakan Henry Ford di atas sangat benar. Kekayaan tidak dapat berkembang begitu saja, tanpa kita tau apa yang mesti dilakukan. Terlebih bagaimana cara mengolah dan mengembangkannya. 

Lihatlah, apakah ada orang-orang kaya besar yang bisa mengembangkan kekayaannya tanpa memiliki pengetahuan, pengalaman , dan kemampuan yang matang. Hampir bisa dipastikan, tidak ada. Aman secara finansial semata-mata tidak datang dari modal besar, atau bahkan kesempatan yang besar juga. Bila kita tidak memiliki kemampuan dan pegalaman matang di bidang yang digeluti, maka modal uang bukan berarti apa-apa. Begitupun kesempatan, akan menghilang begitu saja jika kita tidak bisa memanfaatkannya dengan segala kemampuan dan kematangan pengalaman yang dimiliki. 

Mulai sekarang, belajarlah lebih banyak tentang bidang yang kelak bisa mengantarkan kita pada kekayaan dan keamanan finansial. Galilah pengalaman sedalam mungkin. Dan, miliki kemampuan sebesar-besarnya karena sesungguhnya, ketiga hal itulah menjadi modal terbesar sekaligus termahal. Bukan modal uang, bukan juga faktof keuntungan, atau bahkan kesempatan besar yang kita anggap menjanjikan.